Source: https://www.translators.com/post/why-i-choose-culturally-sensitive-translation-services
Dalam beberapa percakapan dengan kawan-kawan antropologi pasca lulus kuliah terkadang terselip pertanyaan yang terselubung guyonan satir, "Kita ini mau kerja apa, ya?". Jujur saja pertanyaan ini emang valid.
Pasca lulus kuliah kita memang harus menjadi manusia dewasa yang bisa bertanggungjawab dengan dirinya sendiri dan keluarga. Salah satu manifestasinya ya bekerja demi mendapat uang.
Masalahnya, kawan-kawan saya sering bingung skill dan keterampilan penelitian yang didapat dari antropologi itu bisa dipakai buat apa dalam dunia kerja. Begitu pula industri dan HR. Tak banyak yang tahu dan paham latar belakang jurusan.
Padahal dengan bekal ilmu memahami orang lain secara verstehen atau memahami motivasi orang melakukan sesuatu dengan empatik, seharusnya ilmu ini bisa dipakai di dalam dunia apa pun selama proses kerja atau produknya masih terhubung dengan manusia.
Justru dengan ilmunya yang sangat detail, grounded, dan empirik, lulusan antropologi seharusnya bisa menjadi salah satu top of mind para pemilik usaha ketika mencari orang yang bisa membantu menciptakan atau menjual produk yang relvan dengan kebutuhan potential customer.
Antropologi tidak hanya membantu menjelaskan produk apa yang laku, tapi juga bagaimana dan mengapa ia bisa laku.
Pendekatannya yang detail harusnya bisa membantu bisnis dalam memetakan model produk dan pendekatan apa yang bisa dipilih.
Ini penting karena manusia tak sepenuhnya rasional dalam memilih produk. Tingkah lakunya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kelas, gender, etnis, agama, hobi, keluarga, komunitas, trauma, penyakit, kondisi tubuh, gender, dll.
Variabel waktu dan momentum bahkan juga berpengaruh terhadap perilaku potential consumer.
Dengan pendekatan yang sedetail ini, tentu tak mengherankan bisal dulu kaum kolonialis menggunakan ilmu sebagi salah satu alat untuk menjajah dan menaklukan suatu kawasan.
Bila kaum koloanialis menggunakan ilmu antropologi untuk menaklukan wilayah jajahan, maka dunia bisnis seharusnya bisa menggunakan ilmu ini untuk "menundukan pasar".
Toh, dalam dunia bisnis modern, inovasi sering kali lahir bukan dari laboratorium dalam ruangan semata, melainkan dari ruang tamu konsumen.
Sinergi antara antropologi bisnis, riset kualitatif, dan UX (User Experience) menciptakan metode yang disebut Contextual Inquiry. Di sini, peneliti tidak hanya mengandalkan observasi pasif, tetapi melakukan wawancara mendalam yang kontekstual.
Bukti paling nyata dari keberhasilan ini adalah pengembangan Swiffer oleh Procter & Gamble (P&G) pada akhir tahun 1990-an. Saat itu, P&G ingin menciptakan cairan pembersih lantai yang lebih kuat.
Namun, melalui riset kualitatif berbasis antropologi yang dilakukan oleh firma desain Continuum, mereka menemukan realitas yang berbeda di lapangan (tepatnya di rumah-rumah responden di Amerika Serikat).
Dalam wawancara kontekstual tersebut, peneliti melihat seorang ibu yang mencoba membersihkan tumpahan kopi.
Alih-alih mengeluhkan kekuatan cairan pembersih, ibu tersebut justru menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencuci kain pelnya yang kotor di wastafel. Tim riset menyadari bahwa "masalahnya bukan pada sabunnya, tapi pada alat pelnya."
Temuan kualitatif ini mengubah arah bisnis P&G: dari menjual cairan pembersih menjadi menjual solusi pembersihan sekali pakai (Swiffer).
Tanpa wawancara yang kontekstual dan sensitivitas UX terhadap beban kerja pengguna (user burden)-- bisa juga disebut pain point--produk revolusioner ini tidak akan pernah ada.

No comments:
Post a Comment