Welcome

Thursday, 9 April 2026

Dari Menaklukan Wilayah ke "Menundukkan" Pasar: Mengapa Pebisnis Harus Melirik Antropologi?


       Source: https://www.translators.com/post/why-i-choose-culturally-sensitive-translation-services

Dalam beberapa percakapan dengan kawan-kawan antropologi pasca lulus kuliah terkadang terselip pertanyaan yang terselubung guyonan satir, "Kita ini mau kerja apa, ya?".  Jujur saja pertanyaan ini emang valid. 

Pasca lulus kuliah  kita memang harus menjadi manusia dewasa yang bisa bertanggungjawab dengan dirinya sendiri dan keluarga. Salah satu manifestasinya ya bekerja demi mendapat uang.

Masalahnya, kawan-kawan saya sering bingung skill dan keterampilan penelitian yang didapat dari antropologi itu bisa dipakai buat apa dalam dunia kerja. Begitu pula industri dan HR. Tak banyak yang tahu dan paham latar belakang jurusan. 

Padahal dengan bekal ilmu memahami orang lain secara verstehen  atau memahami motivasi orang melakukan sesuatu dengan empatik, seharusnya ilmu ini bisa dipakai di dalam dunia apa pun selama proses kerja atau produknya masih terhubung dengan manusia.

Justru dengan ilmunya yang sangat detail, grounded, dan empirik, lulusan antropologi seharusnya bisa menjadi salah satu top of mind para pemilik usaha ketika mencari orang yang bisa membantu menciptakan atau menjual produk yang relvan dengan kebutuhan potential customer. 

Antropologi tidak hanya membantu menjelaskan produk apa yang laku, tapi juga bagaimana dan mengapa ia bisa laku. 

Pendekatannya yang detail harusnya bisa membantu bisnis dalam memetakan model produk dan pendekatan apa yang bisa dipilih.

 Ini penting karena manusia tak sepenuhnya rasional dalam memilih produk. Tingkah lakunya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kelas, gender, etnis, agama, hobi, keluarga, komunitas, trauma, penyakit, kondisi tubuh, gender, dll. 

Variabel waktu dan momentum bahkan juga berpengaruh terhadap perilaku potential consumer

Dengan pendekatan yang sedetail ini, tentu tak mengherankan bisal dulu kaum kolonialis menggunakan ilmu sebagi salah satu alat untuk menjajah dan menaklukan suatu kawasan.  

Bila kaum koloanialis menggunakan ilmu antropologi untuk menaklukan wilayah jajahan, maka dunia bisnis seharusnya bisa menggunakan ilmu ini untuk "menundukan pasar".

Toh, dalam dunia bisnis modern, inovasi sering kali lahir bukan dari laboratorium dalam ruangan semata, melainkan dari ruang tamu konsumen. 

Sinergi antara antropologi bisnis, riset kualitatif, dan UX (User Experience) menciptakan metode yang disebut Contextual Inquiry. Di sini, peneliti tidak hanya mengandalkan observasi pasif, tetapi melakukan wawancara mendalam yang kontekstual.

Bukti paling nyata dari keberhasilan ini adalah pengembangan Swiffer oleh Procter & Gamble (P&G) pada akhir tahun 1990-an. Saat itu, P&G ingin menciptakan cairan pembersih lantai yang lebih kuat. 

Namun, melalui riset kualitatif berbasis antropologi yang dilakukan oleh firma desain Continuum, mereka menemukan realitas yang berbeda di lapangan (tepatnya di rumah-rumah responden di Amerika Serikat).

Dalam wawancara kontekstual tersebut, peneliti melihat seorang ibu yang mencoba membersihkan tumpahan kopi. 

Alih-alih mengeluhkan kekuatan cairan pembersih, ibu tersebut justru menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencuci kain pelnya yang kotor di wastafel. Tim riset menyadari bahwa "masalahnya bukan pada sabunnya, tapi pada alat pelnya." 

Temuan kualitatif ini mengubah arah bisnis P&G: dari menjual cairan pembersih menjadi menjual solusi pembersihan sekali pakai (Swiffer). 

Tanpa wawancara yang kontekstual dan sensitivitas UX terhadap beban kerja pengguna (user burden)-- bisa juga disebut pain point--produk revolusioner ini tidak akan pernah ada.

No comments:

Post a Comment

My Services

Journalistic
Project Management
Research, MEL, and Assessment
Communication Strategist
Translation
Book Editing

Wanna collaborate?

Selected Portfolios

I am an award-winning journalist and researcher with a cross-sectoral and interdisciplinary background grounded in anthropology. I consider myself a data-driven insight generator and storyteller, combining qualitative research with quantitative data analysis to produce meaningful, evidence-based narratives. Alongside my academic training, I have completed intensive courses in data analysis, project management, content creation, and digital safety, which inform my applied and practice-oriented work.

I have received multiple awards for journalism and research. In 2025, I was awarded by the Earth Journalism Network and Progresip for a short-video report titled Mendengar Suara Pekerja untuk Transisi Energi: Motor Listrik antara Beban dan Harapan Driver Ojol. In 2019, I received research awards from Universitas Gadjah Mada, Chiang Mai University, and Vienna University for research conducted in Thailand. I was also recognized by the Indonesia Territorial Conference as a Top Book Reviewer. Earlier, in 2015, I received an award from Universitas Gadjah Mada for my research titled Agroforestry Transformation and Totemism in West Borneo.

My career spans roles as a researcher, journalist, data analyst, content director, trainer, and public relations professional, working across academia, policy, media, civil society, and companies.

Below is a selection of my publications and projects:

1) Media and Journalism:

2) Academic Works:

3) Assesment and Edit:

  • Asesmen Dampak Proyek NICFI – Samdhana Institute “Hak Komunitas dan REDD+ di Indonesia” (Impact assessment, 2016–2021 — offline publication)
  • Recommendations for the Improvement of the Indigenous Peoples (Masyarakat Hukum Adat) Regional Regulation of Asmat Regency, Papua (Assessment — offline publication)
  • Jaminan Sosial di Indonesia: Sejarah, Teori, dan Tantangan Masa Depan (Editor)
    https://library.fes.de/pdf-files/bueros/indonesien/21813.pdf
  • Kronik Undang-Undang Desa: dari UU No. 5/1979 tentang Pemerintahan Desa ke UU No. 6 tentang Desa (Editor — offline publication)

4) Market Insight, Translation, and Communication Strategy:

  • Potential Customer Analysis (Market Research — Confidental thrifting client; offline publication)
  • How Clients Choose Agencies (Market Research — Confidental agnecy client ; offline publication)
  • The Romance of a Busy Broker — O. Henry (Literary translation; co-translated with Silmi Afina — offline)
    Indonesian version: Kisah cinta pialang saham yang sibuk
  • Pulung Gantung (Movie subtitle translation, Javanese–English; with Yasmin — offline)
  • Katanya anti-diskriminasi, tapi kok masih terjadi?” — Kampanye Kilo 190 (Instagram content lead / communication strategy)
    Link Instagram
  • Interactive Map: Top Coffee Producing and Consuming Countries (2025) (Strategic communication)
    View Dashboard
  • Empat Puluh Tokoh Alumni Pers Mahasiswa UGM (Publlic Relation — offline)
  • Tempat Wisata di Jambi yang harus Kamu Kunjungi (Tourism promotion)
    wisatadestinasi.com